Wednesday, 18 June 2014


Kamis, 19 Juni 2014
Abraham Samad Jelaskan Pernyataan Prabowo soal Kebocoran Penerimaan Negara
Selasa, 17 Juni 2014 | 22:42
Ketua KPK Abraham Samad
Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad membantah pernah mengatakan bahwa kebocoran penerimaan negara mencapai Rp 7.000 triliun.
Menurut Abraham angka Rp 1.000 triliun sampai Rp 7.000 triliun yang pernah disampaikannya bukanlah kebocoran tetapi potensi penerimaan yang seharusnya didapat negara tetapi tidak didapat.
"Bukan kebocoran tetapi potensi penerimaan yang seharusnya bisa didapat itu jadi tidak didapat. Berbeda dengan kebocoran," jelas Samad di kantor KPK, Jakarta, Selasa (17/6).
Walaupun, diakui Abraham bahwa terkait angkanya sudah benar, yaitu potensi penerimaan yang seharusnya didapat negara dari sektor Sumber Daya Alam (SDA) sebesar Rp 7.000 triliun. Tetapi, tidak diterima oleh negara.
"Jadi potensi penerimaan negara yang harus didapatkan Rp 1.000 triliun sampai Rp 7.000 triliun seandainya sistem pengelolaan SDA diperbaiki," ungkap Samad.
Seperti diketahui, saat debat calon presiden (capres) yang digelar Minggu (15/6) lalu, Capres nomor urut satu, Prabowo Subianto mengatakan bahwa kebocoran atau kehilangan kekayaan negara hingga Rp1.000 triliun. Sehingga, harus segera dihentikan.
Menurut Prabowo, kebocoran tersebut didapatnya dari pernyataan Abraham Samad sebelumnya, bahwa ada potensi kebocoran penerimaan negara mencapai Rp 7.000 triliun.
Abraham memang pernah mengatakan bahwa potensi pendapatan negara sebesar Rp 7.200 triliun hilang setiap tahun karena banyak kebijakan impor tidak jelas dan lemahnya regulasi sumber daya energi. Serta, banyaknya pengusaha tambang di Indonesia yang tak membayar pajak dan royalti kepada negara.
Ditambah lagi, dari 45 blok minyak dan gas (migas) yang saat ini beroperasi di Indonesia, sekitar 70 persen di antaranya dikuasai oleh kepemilikan asing.
Hal itu disampaikan Samad saat memberikan materi dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PDI Perjuangan di Hotel Ecopark, Ancol, Jakarta, Sabtu (7/9) tahun lalu. 
Penulis: N-8/AF
Sumber:Suara Pembaruan

No comments:

Post a Comment